Anggita Reizda Siman

Pesut Mahakam: Primadona Sungai Mahakam yang Menghilang

Posted: September 5th 2014

pesut 2

Bagi masyarakat Kalimantan Timur Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) merupakan hewan yang tidak asing lagi, terlebih hewan ini menjadi icon kota Tepian yang patungnya dapat di lihat di depan kantor Gubernur Kalimantan Timur di Jl. Gajahmada, Samarinda.

Pesut atau atau lumba-lumba air tawar ini hidup di sepanjang perairan Sungai Mahakam dan menjadi hewan endemik Kalimantan Timur. Yang membedakan lumba-lumba air tawar dan air laut adalah bentuk kepala dan mulutnya. Pesut berkepala bulat dan memiliki moncong lebih pendek daripada lumba-lumba laut (Munandar, 2011).

Dua Pesut Mahakam

Gambar: Dua Pesut Mahakam

(sumber: Media Indonesia, 2011)

Namun, apakah sampai sekarang masyarakat masih sering melihat hewan perairan dangkal ini di perairan sungai Mahakam?

Berdasarkan perhitungan Burnham dan Overton jumlah populasi pesut tahun 2008 hanya 140 individu (Kreb dan Susanti, 2013) sedangkan jumlah populasi tahun 2012 berdasarkan perhitungan capture-mark-recaptured menurun sekitar 120 individu. Populasi yang terus menurun dari tahun 2000 menyebabkan hewan ini ditetapkan dalam status kritis (critically endangered) (kreb dan Smith, 2000; Kreb dan Budiono, 2005; Jefferson et al., 2008, dalam Noor et al., 2013) malah terancam punah di dunia. Status ini diberikan karena populasi pesut mahakam kurang dari 50 individu dewasa sehingga memenuhi kriteria D untuk critically endangered (Jefferson et al., 2008 dalam Noor et al., 2013).

Populasi spesies yang dilindungi oleh undang-undang di Indonesia ini kecil, terisolasi, dan menghadapi berbagai macam tekanan terhadap kelangsungan hidupnya (Smith et al, 2003; Smith et al., 2007, dalam Noor et al., 2013). Habitat mereka telah banyak berubah dan terdegradasi oleh aktivitas manusia. Padatnya aktivitas transportasi perairan di sekitar Sungai Mahakam menjadi salah satu faktor mempercepat kepunahan lumba-lumba air tawar ini dikarenakan baling-baling Kapal baik penumpang maupun penarik ponton pengangkut batu bara ย yang lalu lalang mencabik-cabik tumbuh mereka.

Kematian pesut juga disebabkan karena hewan ini terperangkap di rengge/jaring nelayan. Pesut memang sering ditemukan sedang mencari makan di dekat rengge dan beberapa nelayan menjadikan kemunculan pesut ini sebagai indikator untuk memasang rengge sehingga resiko pesut terperangkap semakin meningkat (Kreb dan Susanti, 2008). Tidak hanya itu pendangkalan dari sendimentasi yang berlebihan akibat penebangan hutan di pinggir danau menyebabkan terbatasnya pergerakan pesut (Kreb dan Susanti, 2008).

Pesut mati

Gambar: Pesut Mahakam di temukan mati

(Sumber: Anonim, 2014.)

Rata-rata kematian Pesut per tahun adalah 4 ekor (Kreb dan Susanti, 2008) sedangkan sepanjang tahun 2012 kematian pesut sekitar 6 individu dan kelahiran pesut sekitar 5 individu (Noor et al., 2013).

Selain telah sulit di temukan di sepanjang Sungai Mahakam kota Samarinda, keberadaan hewan yang bergerombol bersama kawananya dan sering meyimburkan air dari hidungnya ini juga dirasa oleh masyarakat sulit ditemukan di habitat intinya (core habitat) yaitu di daerah Muara Pahu-Penyinggahan (Kreb dan Noor, 2012 dalam Noor et al., 2013).

Melihat hal ini pemerintah Kukar (Kutai Kartanegara) pada tahun 2013 menjalin kerja sama dengan Universitas Tokyo, Jepang terkait akan kesepakatan pelastarian Pesut Mahakam. Selain itu beberapa Badan-Badan dan Pemerintahan yang tertarik akan konservasi hewan ini menetapkan beberapa daerah seperti Kecamatan Muara Pahu untuk tidak memasang rengge di sekitar daerah ini.

Populasi dolpin air tawar mahakam yang kritis ini menjadi PR bukan hanya Pemerintah maupun Badan Konservasi lainnya tetapi juga PR dan kewajiban dari masyarakat untuk mau menjaga keberadaan pesut mahakam agar keberadaan Pesut mahakam ini tidak punah dan dapat dilihat oleh anak cucu kita kelak.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014.ย ย Pesut Mahakam di temukan mati di Muara Semayang. http://www.vivaborneo.com/.ย 4 September 2014.

Kreb, D. dan Susanti, I. 2008. Program Konservasi Pesut Mahakam: Survei Monitoring Populasi dan Ancaman Pesut Mahakam 2007. Yayasan Konservasi RASI.

Munandar, A. 2011. Mengusut Pesut di Air Selasih. Media Indonesia. 3 Mei 2011.


10 responses to “Pesut Mahakam: Primadona Sungai Mahakam yang Menghilang”

  1. novia11 says:

    Semoga kerja sama dengan Universitas Tokyo benar-benar terlaksana sehingga jumlah kematian pesut dapat menurun dan pemerintah Kalimatan Timur seharusnya melakukan sosialisasi dengan para nelayan supaya mereka sadar pesut adalah hewan yang harus kita lindungi..

  2. Leni Budhi Alim says:

    Info yang mengarik ๐Ÿ˜€ saya jadi mengetahui ada jenis lumba-lumba yang hidup di air tawar. aku mau nanya ni, ada ga si upaya konservasi lain selain tidak memasang rengge di daerah tertentu? sepertinya misal cuma mengupayakan tidak memasang rengge kurang efektif, bisa ga dari segi kapal-kapal yang lalu lalang diberi informasi pengetahuan agar tidak menabrak lumba-lumba yang ada disitu. Sehingga, kehidupan alaminya di alam tetap lestari. terima kasih ๐Ÿ™‚

  3. mynarita says:

    terima kasih anggi untuk infonya, aku bahkan baru ingat kalo yang mirip lumba-lumba ini sebutannya pesut.. sedih saat tau kondisinya sudah kritis ๐Ÿ™ Bahkan sampai luar negeri yang ikut andil untuk pelestarian endemik Indonesia ini.. saran aja, ngi.. berhubung kamu endemik Kal-Tim juga.. monggo dikonservasikan dengan cara yang lebih sosial supaya masyarakat juga bisa ikut andil dalam pelestarian pesut unyu ini ๐Ÿ˜€

  4. luhshyntia says:

    ternyata sangat di sayangkan pesut yang lucu ini harus menurun populasinya hanya karena beberapa faktor penyebabnya dan apakah pesut saat ini sama sekali tidak ditemukan di sungai Mahakam? atau masih ada tetapi jumlahnya sedikit?

  5. jejejacqueline says:

    untungnya pemerintah Kukar sudah menyadari pentingnya usaha pelestariaan satwa ini. yang agak disayangkan, kenapa pemilihan patner konservasi dilakukan dengan pihak luar negeri. apa sumber daya manusia indonesia tidak dapat mengatasi masalah ini?

  6. Pesut Mahakam termasuk satwa langka di dunia dan mempunyai nilai estetika, ekologis, dan ilmiah yang tinggi. Binatang ini dilindungi berdasarkan SK Menpan Th 1975 No 35/Kpts/Um/I/1975.
    (http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/03/05/101097/Selamatkan-Populasi-Pesut-Mahakam)
    tragis juga ya, buat dapet ikan dan udang aja, pesut harus berebut sama nelayan. ati2, ntar pesut ngga lagi mangsa ikan dan udang, tp mangsa nelayannya. ==”

  7. elmo1271 says:

    thanks infonya…
    angka kematian lebih besar daripada angka kelahiran, hal ini dapat menyebabkan kepunahan pada kalimantan timur. Tidak harus pemerintah, kitalah yang harus cepat bertindak!

  8. retnowulandari says:

    Duuhhh.. Indonesia beruntung sekali yah memiliki hewan unyuu seperti ini, walaupun sayangnya kondisinya semakin menghilang ๐Ÿ™
    Semoga msyarakat semua terutama yang di Kalimantan dan pemerintah mau lebih aware lagiii sama dolpin unyu ini, sehingga anak cucu kita nanti masih dapat melihat wujud asli dari Pesut Mahakam. Tidak hanya berupa kenangan berupa patung yang terpampang di depan kantor Gubernur Kalimantan Timur

  9. pelangiasmara says:

    informasi yang menarik anggi, saya jadi tahu tentang pesut mahakam.
    apakah pesut mahakam juga dikonsumsi masyarakat?

  10. arum08 says:

    miris bacanya.. semoga koservasi yang dilakukan benar- benar bisa mempertahankan keberlangsungan hidup pesut. dan akan terus berlanjut dan tidak berhenti ditengah jalan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php