Ancilla

Mineral Fosfat: Batuan Fosfat dan Guano

Posted: March 3rd 2015

MINERAL.. pasti teman-teman sudah sangat sering mendengar kata tersebut. 😀

FOSFAT… pasti teman-teman juga sudah sering mendengar bukan?? Nah, buat teman2 yang belum tau, ternyata fosfat merupakan salah satu contoh mineral 😀

Bahasan lebih lengkapnya tentang sumber daya lokal ‘MINERAL FOSFAT’ ada di postingan ini teman-teman…. 😀

Gambar 1. Batuan Fosfat

Gambar 1. Batuan Fosfat

DESKRIPSI

Fosfat adalah golongan persenyawaan kimia dimana salah satu logam bersenyawa dengan fosfat yang radikal. Golongan ini dicirikan oleh adanya gugus anion PO43- dan umumnya berkilap kaca atau lemak serta cenderung lunak dan rapuh tetapi perlu teman-teman ketahui bahwa fosfat juga memiliki struktur kristal yang bagus dan berwarna (Christya, 2013). Pasti kenampakan mineral sangat indah bukan teman2?? 😀

Nah, kalau menurut Kelompok Program Teknologi Informasi Pertambangan (2005), fosfat merupakan unsur dalam suatu batuan beku (apatit) atau sedimen dengan kandungan fosfor ekonomis yang biasanya dinyatakan sebagai bone phosphate of lime (BPL) atau triphosphate of lime (TPL) atau berdasarkan kandungan P2O5.

Ini ada pengertian fosfat lagi teman2 menurut Kasno, dkk (2009) yang akan dijelaskan lebih rinci daripada pengertian sebelumnya. 😀 Fosfat merupakan jenis batuan yang mengandung mineral dan ion fosfat dalam struktur kimianya. Jenis batuan ini dikenal dengan nama ‘batuan fosfat’ atau ‘rock phosphate’. Batuan fosfat ini memiliki berbagai formasi geologi seperti batuan sedimen, batuan beku, batuan metamorfik, dan guano. Perlu teman-teman ketahui juga kalau fosfat alam dapat dibedakan menjadi tiga macam berdasarkan proses-proses pembentukannya, yaitu:

  1. Fosfat primer: terbentuk dari pembekuan magma alkali yang mengandung mineral fosfat apatit, terutama fluor apatit (Ca5(PO4)3F). Apatit sendiri dibedakan atas Chlorapatite (3Ca3(PO4)2CaCl2) dan Flour apatite (3Ca3(PO4)2CaF2.
  2. Fosfat sedimenter (marin): merupakan endapan fosfat sedimen yang terendapkan di laut dalam, lingkungan alkali, dan lingkungan yang tenang. Fosfat alam terbentuk di laut dalam bentuk kalsium fosfat yang disebut phosphorit. Bahan endapan ini dapat ditemukan dalam endapan yang berlapis-lapis hingga ribuan milpersegi. Elemen P berasal dari pelarutan batuan, sebagian P diserap oleh tanaman, dan sebagian lagi terbawa oleh aliran ke laut dalam.
  3. Fosfat guano: merupakan hasil akumulasi sekresi burung pemakan ikan dan kelelawar yang terlarut dan bereaksi dengan batu gamping karena pengaruh air hujan dan air tanah
Gambar 2. Fosfat Guano Walet

Gambar 2. Fosfat Guano Walet

 

Gambar 3. Guano Kelelawar

Gambar 3. Guano Kelelawar

Ini dia contoh batuan mineral fosfat… 😀

  1. Apatite
Gambar 3. Apatit

Gambar 4. Apatit

  1. Monasit
Gambar 4. Monasit

Gambar 5. Monasit

 

POTENSI DAN PENYEBARAN DI INDONESIA
Teman-teman wajib tau yaa kalau keberadaan batuan fosfat di Indonesia cukup banyak ditemukan. 😀 Ini dia persebaran batuan fosfat di Indonesia:

Gambar 6. Peta Persebaran Fosfat di Indonesia

Gambar 6. Peta Persebaran Fosfat di Indonesia

Batuan fosfat umumnya terdapat di daerah pegunungan karang, batu gamping atau dolomitik yang merupakan deposit gua. Potensi deposit batu fosfat terbesar yaitu provinsi  Jawa Timur teman-teman. 😀 Nah, berdasarkan Pusat Sumber Daya Geologi (2008), deposit batu fosfat di Indonesia menurut Peta Potensi Sumber Daya Geologi seluruh kabupaten di Indonesia adalah sebagai berikut:

potensi 1potensi 2_

 Data Terdahulu 😀

Deposit fosfat alam di Indonesia menurut data yang dikumpulkan dari tahun 1968-1985 diperkirakan 895.000 ton, 66% terdapat di Pulau Jawa, 17% terdapat di Sumatera Barat, 8% terdapat di Kalimantan, 5% terdapat di Sulawesi, dan 4% terdapat di Papua, Aceh, Sumatera Utara, dan NusaTenggara. Data deposit fosfat alam tersebut yaitu:

potensi 3_

Deposit fosfat alam di Indonesia menurut data yang dikumpulkan sebelum perang dunia II hingga 1958 diperkirakan 663.000 ton, sekitar 76% terdapat di Pulau Jawa dan sekitar 23% terdapat di Sumatera Barat. Data deposit fosfat alam tersebut yaitu:

potensi 4_

MANFAAT

Pemanfaatan fosfat alam yang paling menonjol adalah di bidang Industri dan Pertanian 😀

Fosfat alam paling sering dimanfaatkan sebagai pupuk fosfat yang tentunya berguna untuk tanaman yaaa 😀

Gambar 7. Pupuk Fosfat

Gambar 7. Pupuk Fosfat

Metode untuk mengefisiensikan pupuk P dapat dilakukan dengan cara biologi, yakni dengan membuat fosfokompos, penginokulasian dengan mikoriza, penggunaan mikroorganisme pelarut P, dan menggunakan spesies tanaman yang toleran terhadap defisiensi P. Menurut Widawati dan Suliasih (2008), bakteri pelarut fosfat dalam bahan kompos dapat menstimulir aktivitas amonifikasi, nitrifikasi, fiksasi nitrogen, dan fosforilasi sehingga akan meningkatkan produktivitas tanah secara permanen.

Menurut Sutriadi dkk. (2010), metode secara kimiawai untuk mengefisiensikan superfosfat dan fosfat alam dapat dilakukan dengan pengasaman sebagian yang dikenal dengan pupuk PARP (Partially Acidulated Phosphate Rock). Teknologi ini menggunakan cara yang sama ketika membuat pupuk superfosfat, hanya saja penggunaan asam yang ditambahkan tidak sebanyak dalam penggunaan superfosfat. Keuntungan metode ini selain menggunakan asam yang lebih rendah, kapasitas pabrik dapat ditingkatkan, dan dapat menggunakan bahan batuan fosfat alam yang tidak dapat digunakan kembali untuk membuat pupuk superfosfat. Pupuk tersebut dapat digunakan pada tanah masam (Ultisols dan Oxisols) dan sebagian Inceptisols serta pada tanah netral dengan kadar P yang rendah.

 

PERMASALAHAN PENGELOLAAN

Dibalik banyaknya pemanfaatan mineral fosfat, ada pula permasalahan dalam pengelolaan fosfat teman-teman… 🙁 Hal ini terkait dengan kata pepatah ‘Semua yang digunakan secara berlebihan tentunya tidak baik atau akan menjadi racun’ 😀

Fosfat memang tidak memiliki daya racun, bahkan sebaliknya merupakan salah satu nutrisi penting yang dibutuhkan mahluk hidup. Namun, keberadaan fosfat yang berlebihan pada badan air menyebabkan suatu fenomena yang disebut eutrofikasi (pengkayaan nutrien). Kondisi eutrofik ini sangat memungkinkan alga, tumbuhan air berukuran mikro untuk tumbuh berkembang biak dengan pesat. Hal ini bisa dikenali dengan warna air yang menjadi kehijauan, berbau tak sedap, dan kekeruhannya yang menjadi semakin meningkat. Nah, kalau tingkat kekeruhan lingkungan air semakin meningkat tentunya pasti akan berdampak buruk
bagi organisme yang tinggal di dalamnya.

Gambar 8. Blooming Algae

Gambar 8. Blooming Algae

Banyaknya eceng gondok yang bertebaran di rawa-rawa dan danau-danau juga disebabkan fosfat yang sangat berlebihan ini. Tanaman dapat menghabiskan oksigen dalam sungai pada malam hari, bila tanaman tersebut mati dan dalam keadaan sedang mencerna pada siang hari, pancaran sinar matahari ke dalam air akan berkurang sehingga proses fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen juga berkurang. Makhluk  hidup air seperti ikan dan spesies lainnya tidak bisa tumbuh dengan baik sehingga akhirnya mati. Hilangnya ikan dan hewan lainnya dalam mata rantai ekosistem air akan menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem air teman-teman… 🙁

Gambar 9. Eutrofikasi Eceng Gondok

Gambar 9. Eutrofikasi Eceng Gondok

Ada pula permasalahan yang akan ditimbulkan akibat pemanfaatan sebagai pupuk jika tidak dikelola dengan baik. Pupuk fosfat mengandung unsur logam berat dan radioisotop yang dapat membahayakan pada konsentrasi tertentu dan berakibat mencemari lingkungan setelah fosfat alam yang digunakan langsung sebagai pupuk larut dalam tanah. Bahan baku pupuk fosfat adalah fosfat alam yang ditambang dan merupakan sumber yang tidak tergantikan sehingga cadangan yang tersedia di dunia hanya akan bertahan untuk 100-120 tahun jika penambangan fosfat alam tidak dikelola dengan tepat. Perlu teman-teman ketahui pula, salah satu produk yang mengandung mineral fosfat adalah detergen. Komponen fosfat dipergunakan untuk membuat sabun sebagai pembentuk buih dan adanya fosfat dalam air limbah dapat menghambat penguraian pada proses biologis.

Gambar 10. Limbah Detergen

Gambar 10. Limbah Detergen

 

STRATEGI PENGENDALIAN PENCEMARAN AKIBAT PEMANFAATAN FOSFAT

Tentunya, pengendalian pencemaran akibat pemanfaatan fosfat pasti ada yaa teman-teman…. 😀

Menurut Sutriadi dkk. (2010), langkah pencegahan pada prinsipnya mengurangi pencemar dari sumbernya untuk mencegah dampak lingkungan yang lebih berat, yaitu :

  1. Menerapkan prinsip-prinsip penambangan yang berkelanjutan, yaitu dengan memperhitungkan dampak terhadap kondisi lingkungan baik fisik, kimia, maupun sosial budaya.
  2. Menerapkan beberapa teknologi pengendalian residu logam berat dari fosfat alam yang digunakan pada bidang pertanian, antara lain:
  3. Teknologi peningkatan efisiensi penggunaan pupuk fosfat alam dengan diiberikan secara langsung dan digunakan dengan takaran yang tepat.
  4. Teknologi fitoremediasi, yaitu memanfaatkan pertumbuhan tanaman untuk mengurangi kadar logam berat.
  5. Teknologi bioremediasi, yaitu perbaikan tanah yang telah tercemar logam berat dengan memanfaatkan mikroorganisme tanah.

Pengendalian pencemaran akibat pemanfaatan fosfat terutama di wilayah pemukiman penduduk dapat dilakukan dengan cara pembuatan kebijakan yang kuat untuk mengontrol pertumbuhan penduduk karena sejalan dengan populasi penduduk yang terus meningkat, maka akan meningkat pula kontribusi bagi lepasnya fosfat ke lingkungan air dari limbah sumber fosfat. Pemerintah juga harus mendorong para pengusaha agar produk detergen tidak lagi mengandung fosfat. Begitu pula, produk makanan dan minuman diusahakan juga tidak mengandung bahan aditif fosfat. Di samping itu, dituntut pula peran pemerintah di sektor pertanian agar penggunaan pupuk fosfat tidak berlebihan serta perannya dalam pengelolaan sektor peternakan untuk meminimalkan fosfat yang akan dilepaskan ke lingkungan air. Masyarakat juga dianjurkan untuk tidak berlebihan mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung aditif fosfat.

Penggunaan fosfat alam yang tidak memenuhi standar SNI no. 02-3776-2005 secara teknis dan ekonomis akan merugikan. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan kualitas untuk melindungi pengguna fosfat alam atau petani dari kemungkinan pemalsuan baik oleh produsen maupun pedagang pupuk, menjaga kualitas fosfat alam yang digunakan dalam produksi pertanian tetap baik, menjaga efektivitas, dan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Survei dan eksplorasi deposit fosfat alam di Indonesia juga perlu dilakukan untuk mengetahui jika ada perkiraan cadangan mineral fosfat yang telah ditemukan.

Apatite-447-a

Akhir kataa… Tentunya kita sebagai masyarakat, terutama sebagai mahasiswa biologi harus turut berpartisipasi guna menjaga konservasi lingkungan dari bahaya sumber daya fosfat alam dan juga untuk konservasi mineral fosfat yaaaa 😀

 

Daftar Pustaka                                                                        

Christya, H. M. 2013. Golongan Mineral Halida, Fosfat, dan Native Element. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”, Yogyakarta.

Kasno, A., Rochayati, S. dan Prasetyo, B. H. 2009. Deposit, Penyebaran dan Karakteristik Fosfat Alam. Balai Penelitian Tanah, Bogor.

Kelompok Program Teknologi Informasi Pertambangan. 2005. Fosfat. http://www.tekmira.esdm.go.id/data/Fosfat/ulasan.asp?xdir=Fosfat&commId=14&comm=Fosfat. 27 Februari 2015.

Sutriadi, M.T., Rochayati dan Rachman, A. 2010. Pemanfaatan Fosfat Alam Ditinjau dari Aspek Lingkungan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.

Widawati, S. dan Suliasih. 2008. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensila Sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica ceventis Oed.) di Tanah Marginal. Biodiversitas. 7(1): 10-14.

 

-Ancilla, Novia, Tania, Heri-

 


4 responses to “Mineral Fosfat: Batuan Fosfat dan Guano”

  1. Sainawal Tity says:

    untuk yang Fosfat guano itu berbahaya tidak kehidupan walet bahkan mungkin ketika ia akan berkembang biak ? dari segi kandungan kimia kah atau sisi lain mungkin. saya penasaran apa yang akan terjadi jika anak burung walet lahir dan dibesarkan di dalam fosfat guano

  2. agnes9 says:

    Informasi yang sangat lengkap Ancila 🙂 krn diketahui jika penggunaan fosfat secara berlebihan dapat berdampak negatif bagi lingkungan, di Indonesia sendiri apakah dari pemerintah sendiri ada peraturan mengenai pembatasan penggunaan fosfat itu sendiri?

  3. agnes9 says:

    Informasi yang sangat lengkap Ancila 🙂 krn diketahui jika penggunaan fosfat secara berlebihan dapat berdampak negatif bagi lingkungan, di Indonesia sendiri apakah dari pemerintah sendiri ada peraturan mengenai pembatasan penggunaan fosfat itu sendiri? Cathy pake blog Agnes hehehe

  4. maria18anindya says:

    eceng gondok berpotensi menyerap fosfat, sebenarnya limbah hasil pertambangan bisa ditampung dulu di suatu bak besar yg ditumbuhi eceng gondok, harapannya, kadar fosfat dalam limbah bisa menurun atau bahkan hilang sebelum akhirnya masuk ke badan air.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php