Ancilla

ANGGREK BULAN: Keindahan Puspa Pesona Indonesia wajib dibudidayakan!

Posted: September 9th 2014

Sebelum membahas lebih jauh mengenai keberadaan anggrek bulan di Indonesia, perlu teman-teman ketahui bahwa Pemerintah telah menetapkan tiga jenis bunga sebagai bunga Nasional dan telah dikukuhkan penyebutannya, yaitu:

  1. Melati (Jasminum sambac) sebagai puspa bangsa
  2. Anggrek bulan (Phalaenopsis sp.) sebagai puspa pesona
  3. Padma Raksasa (Rafflesia arnoldi) sebagai puspa langka

 

Anggrek Bulan

Gambar 1. Salah satu jenis Anggrek Bulan (Phalaenopsis sp.)

 

Sekilas tentang Anggrek Bulan

Indonesia merupakan negara yang kaya akan tanaman hias, salah satunya yaitu tanaman anggrek yang memiliki bunga dengan keindahan yang khas dan merupakan komoditas hortikultura unggulan yang memiliki prospek agribisnis untuk dikembangkan. Anggrek bulan pertama kali ditemukan di Maluku, namun saat ini anggrek bulan sudah tersebar luas di berbagai daerah di Indonesia. Anggrek bulan memiliki beberapa nama daerah seperti anggrek wulan (Jawa dan Bali), anggrek terbang (Maluku), dan anggrek menur (Jawa). Anggrek bulan merupakan jenis anggrek (Orchidaceae) yang mempunyai cri khas kelopak bunga yang lebar dan berwarna putih, namun saat ini sudah banyak anggrek bulan hasil persilangan yang memiliki warna dan corak yang beraneka ragam. Keberadaan anggrek, termasuk anggrek bulan telah tersebar di berbagai kepulauan Indonesia, diantaranya Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Irian Jaya. Namun, saat ini keberadaan anggrek bulan mulai terancam punah dikarenakan jumlah dan keberagaman anggrek bulan mulai menurun, khususnya anggrek bulan yang hidup secara alami di alam terbuka.

 

Peta Persebaran Anggrek Bulan di Indonesia

Gambar 2. Peta Persebaran Anggrek di Indonesia

 

Status Konservasi

Status konservasi anggrek bulan berdasarkan IUCN adalah terancam punah.

Status perdagangan internasional berdasarkan CITES adalah Appendix II.

Anggrek bulan juga termasuk salah satu flora yang masuk dalam daftar  flora dan fauna yang dilindungi di Indonesia yang tercantum dalam PP No. 7 tahun 1999.

 

Ancaman Keberadaan Anggrek Bulan

  • Semakin maraknya perdagangan anggrek bulan tanpa diimbangi kesadaran akan status konservasi anggrek bulan yang semakin menurun dan pengetahuan akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati.
  • Banyaknya pembudidayaan anggrek bulan tanpa diimbangi upaya konservasi, khususnya konservasi secara in-situ.
  • Adanya pembukaan atau alih fungsi hutan menjadi ancaman punahnya anggrek bulan di alam.

 

Usaha Konservasi

Seperti yang telah kita ketahui bahwa usaha konservasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu konservasi secara in-situ dan ex-situ. Konservasi secara in-situ merupakan cara melindungi tanaman di habitat aslinya, dimana usaha konservasi  ini sekaligus untuk melindungi ekosistem sekitarnya tanpa merusak hutan tempat pohon-pohon hidup yang dijadikan sebagai tempat anggrek bulan tumbuh secara alami. Cara ini merupakan usaha konservasi yang terbaik karena mampu menyelamatkan Phalaenopsis sp. dan jenis lainnya serta segala jenis flora dan fauna yang hidup di sekitarnya. Konservasi secara in-situ dapat dilakukan pula dengan memanfaatkan habitat alami anggrek bulan sebagai ekowisata.

Usaha konservasi juga dapat dilakukan di luar habitatnya, yang dikenal dengan istilah konservasi secara ex-situ. Dalam hal ini, Phalaenopsis sp. dapat dibudidayakan di kebun raya atau tempat-tempat khusus yang telah dibuat untuk membudidayakan anggrek, dimana kondisi tempat tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga sesuai dengan habitat aslinya. Usaha konservasi secara ex-situ ini merupakan usaha konservasi yang paling mudah untuk dilakukan karena kita tidak perlu terjun langsung ke habitat asli suatu flora atau fauna yang ingin kita budidayakan. Saat ini, usaha konservasi ex-situ telah banyak diterapkan oleh masyarakat Indonesia yaitu oleh para kolektor pencinta flora atau fauna, termasuk salah satunya yaitu budidaya Phalaenopsis sp. oleh para pencinta anggrek bulan. Kesadaran dari para kolektor ini sangat membantu dalam konservasi anggrek bulan.

Budidaya anggrek bulan tersebut dilakukan dengan cara perbanyakan tanaman, baik ditanam di pekarangan, nursery anggrek, maupun di kebun percobaan lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Perbanyakan anggrek bulan juga dapat dilakukan  dengan beberapa cara selain melalui biji, yaitu dengan cara kultur embrio secara in-vitro untuk mempertahankan variabilitas genetik tanaman dan persilangan untuk menghasilkan hibrida baru yang nantinya dapat menambah kekayaan anggrek bulan di Indonesia. Kultur embrio secara in-vitro dilakukan dengan cara menumbuhkan embrio anggrek bulan pada medium buatan, yang bertujuan untuk menghasilkan bibit anggrek bulan dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif singkat sehingga para pembudidaya anggrek bulan tidak perlu mengambil anggrek tersebut di habitat aslinya yang dapat menyebabkan menurunnya jumlah spesies anggrek bulan di alam. Persilangan dapat dilakukan dengan cara mengoleksi spesies terseleksi yang memiliki keistimewaan atau sedikit perbedaan, dimana spesies tersebut nantinya akan digunakan sebagai induk silang. Persilangan ini bertujuan untuk menghasilkan anggrek hibrida baru yang nantinya dapat menambah kekayaan spesies anggrek bulan di Indonesia.

Kultur Embrio Anggrek Bulan secara In-Vitro

Gambar 3. Budidaya Anggrek Bulan dengan Kultur secara In-Vitro

 

Terkait dengan anggrek bulan (Phalaenopsis sp.) sebagai Puspa Pesona Indonesia yang jumlah dan keragamannya di persebaran daerah Indonesia semakin menurun, maka marilah kita sebagai masyarakat Indonesia turut berperan serta dalam usaha konservasi anggrek bulan!

Budidaya Anggrek Bulan

Gambar 4. Budidaya Anggrek Bulan Hingga Umur 3 Bulan

anggrek

Gambar 5. Aneka Ragam Anggrek Bulan

 

DAFTAR PUSTAKA

Dwiyani, R., Purwantoro, A., Indrianto, A. dan Semiarti, E. 2012. Konservasi Anggrek Alam Indonesia Vanda tricolor Lindl. varietas suavis melalui Kultur Embrio secara In-Vitro. Bumi Lestari. 12(1): 93-98.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2007. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis: Rangkuman Kebutuhan Investasi. Edisi Kedua. Departemen Pertanian Republik Indonesia. Jakarta.

Herlina, D. 2012. Konservasi Anggrek Phalaenopsis dengan Perbanyakan Biji secara In Vitro. Balai Penelitian Tanaman Hias. Cianjur.

Tempo. 2013. Anggrek Indah yang Membuat Gundah.  http://www.tempo.co/read/news/2013/04/05/108471476/Anggrek-Indah-yang-Membuat-Gundah. 9 September 2014.


9 responses to “ANGGREK BULAN: Keindahan Puspa Pesona Indonesia wajib dibudidayakan!”

  1. Vincentius Yafet Winata says:

    Ulasan yang menarik sehubungan anggrek bulan merupakan tanaman endemik indonesia yang memiliki nilai ekonomis tinggi sangat berpotensi untuk dikembangkan. Sayangnya coba disinggung lagi tentang bidang molekulernya karena kultur belum termasuk tingkat molekuler. Keep blogging 🙂

  2. Elviena says:

    informasi yang informatif sekali, yang mengingatkan kita tentang status anggrek bulan sebagai Puspa Pesona Indonesia keberadaannya sekarang sudah terancam punah. mari kita selamatkan Puspa Pesona Indonesia ini agar tetap lestari 🙂

  3. leonardo says:

    Semoga saja dengan terus dikembangkannya konservasi Anggrek bulan ini, maka jenis-jenis Anggrek semakin bertambah banyak dan bervariasi. Sehingga terhindar dari adanya kepunahan jenis Anggrek dimasa mendatang… 🙂

  4. ancilla says:

    terimakasih buat commentnya teman2… Setuju sekali, kita harus turut berusaha untuk melestarikan anggrek bulan. Jangan sampai flora ini punah, apalagi anggrek bulan merupakan Puspa Pesona Indonesia yang sudah tersebar pula di luar Indonesia. Melalui anggrek bulan ini dan flora fauna lainnya, Indonesia dapat lebih dikenal oleh negara lain. khususnya untuk biodiversitas di Indonesia. =D

    Buat ko Vincent: benar sekali ko, jadi anggrek bulan harus dapat dipertahankan keberdaannya di Indonesia. Oya, ini makul biokon ko, bukan ekomol…hehe.

  5. agustinaruban says:

    info yang menarik lala.. harus dilestarikan dan dijaga..semoga dapat dipertahankan.. kalo boleh tau, kawasan konservasinya dimana aja ya la? 😀

  6. maria18anindya says:

    wah, ternyata anggrek bulan sudah mulai menghilang. 🙁
    mungkin di kebun biologi kita bisa dipelihara beberapa anggrek bulan sebagai salah satu upaya kita buat pelestarian anggrek bulan. 😀
    penanamannya juga tidak memakan banyak tempat. tp perawatan nya perlu peratian lebih.
    anggrek bulan juga bunga yg tumbuh di daerah torpis kan ya? sesuai dengan iklim di jogja..

  7. Florencia Grace Ferdiana says:

    Informasi yang menarik mengenai anggrek bulan ini. tentunya kita harus menjaga dan melesarikan bunga nasional ini supaya kita dapat menunjukkan kepada dunia kekayaan flora yang dimiliki oleh Indonesia. semoga dengan kemajuan teknologi dan pengetahuan seperti kultur in-vitro bisa membantu dalam pelestarian bunga ini. 😀 😀 😀

  8. ancilla says:

    usaha konservasi bisa dilakukan dimana aja karena usaha konservasi melalui pembudidayaan kan bisa secara ex-situ (melalui kultur atau penanaman biasa), kalau secara in-situ di hutan alam habitat anggrek bulan.
    Iya, anggrek bulan cocoknya untuk daerah beriklim tropis.
    Benar sekali, dengan adanya kemajuan teknologi budidaya tanaman, salah satunya yaitu kultur, kita harus bisa melestarikan bunga nasional ini 😀

  9. christianbunardi says:

    Informasi yang menarik. Semoga anggrek bulan yang merupakan Puspa Pesona Indonesia yang jumlah dan keragamannya di persebaran daerah Indonesia semakin menurun dapat dihindari, karena didukung oleh sdm yang sudah semakin maju dalam hal mengkultur embrio secara in-vitro agar varietas anggrek bulan semakin beraneka ragam.

Leave a Reply to ancilla Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php