Alphonsus Yospy Guntur D

Mammalia Besar dan Langka yang semakin terancam…

Posted: September 9th 2015

ant

Siapa yang tidak keanal dengan Gajah Sumatera? Tentu kita sudah sangat familiar dengan nama hewan ini. Hewan besar yang mempunyai nama latin Elephas maximus sumatranus ini merupakan hewan endemic asli Indonesia khususnya di pulau Sumatera. Namun, dalam satu dekade belakangan ini Gajah Sumatera ini mulai terancam punah. Bahkan statusnya pun sudah dinaikkan dari terancam menjadi sangat terancam oleh Serikat Internasional Pelestarian alam (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN)). Hal ini dikarenakan banyaknya ancaman yang menyebabkan populasi Gajah Sumatera semakin sedikit.

Nah, ancaman utama bagi gajah Sumatera adalah hilangnya habitat mereka akibat aktivitas penebangan hutan yang tidak berkelanjutan dan disusul akibat perburuan dan perdagangan liar. Pulau Sumatera merupakan salah satu wilayah dengan laju deforestasi hutan terparah di dunia dan populasi gajah berkurang lebih cepat dibandingkan jumlah hutannya. Penyusutan atau hilangnya habitat satwa besar ini telah memaksa mereka masuk ke kawasan berpenduduk sehingga memicu konflik manusia dan gajah, yang sering berakhir dengan kematian gajah dan manusia, kerusakan lahan kebun dan tanaman dan harta benda. Belum lagi masalah perburuan liar yang banyak dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab yang hanya untuk mendapatkan gadingnya untuk di jual.. kasian banget ya, membunuh satwa langka hanya untuk mendapatkan gading. Ya begitulah keadaannya sekarang. Dalam seperempat abad terakhir ini estimasi populasi gajah Sumatera di Propinsi Riau, yang telah lama menjadi benteng populasi gajah, menurun sebesar 84% hingga tersisa sekitar 210 ekor saja di tahun 2007. Dalam rilis yang dipublikasikan di website resmi WWF, jumlah gajah Sumatra kini tercatat hanya sekitar 2.400 hingga 2.800 ekor saja, dari 5.000 ekor pada 1985. Jika kecenderungan ini terus berlanjut dan dua lansekap hutan luas yang masih tersisa, Tesso Nilo dan Bukit Tigapuluh, tidak dilindungi maka populasi gajah Sumatera tidak akan bertahan lebih lama lagi dan akan mengalami kepunahan lokal.

Pengembangan industri kertas serta industri kelapa sawit adalah salah satu pemicu hilangnya habitat gajah di Sumatera. Pembangunan perkebunan sawit mendorong terjadinya konflik manusia-satwa yang semakin hari kian memuncak. Pohon-pohon sawit muda adalah makanan kesukaan gajah dan kerusakan yang ditimbulkan gajah ini dapat menyebabkan terjadinya pembunuhan (umumnya dengan peracunan) dan penangkapan. Ratusan gajah mati atau hilang di seluruh Propinsi Riau sejak tahun 2000 sebagai akibat berbagai penangkapan satwa besar yang sering dianggap ‘hama’ ini.

Melindungi kawasan hutan yang tersisa merupakan hal yang sangat penting agar kelangsungan hidup populasi gajah Sumatera dapat terus berlanjut. Koridor-koridor satwa liar dalam kawasan hutan harus dipertahankan atau diciptakan kembali sehingga dapat menyediakan wilayah yang aman bagi gajah untuk memperoleh sumber-sumber makanan baru dan berkembang biak.

Perburuan dan perdagangan illegal gading gajah merupakan ancaman serius terhadap kelestarian populasi gajah sumatera dan kalimantan. Resiko kepunahan lokal akibat perburuan dan perdagangan illegal perlu diwaspadai dengan segera. Perburuan yang terjadi di Sumatera diduga juga disebabkan oleh karena semakin tingginya permintaan gading gajah secara illegal di tingkat internasional.

 

Nah, maka dari itu kita perlu melakukan pelestarian satwa yang semakin terancam ini dengan cara konservasi. Salah satu caranya dengan monitoring populasi gajah sumatera tersebut. Sistem monitoring yang rutin seperti yang diterapkan dengan MIKE (Monitoring Illegal Killing of Elephant) oleh CITES perlu segera diimplemetasikan. Dalam kaitan ini pemerintah dan para pemerhati gajah Sumatera dan Kalimantan berharap agar penegakan hukum terhadap perburuan dan perdagangan illegal gading Gajah asal Sumatera dan Kalimantan dapat dilaksanakan secara konsisten,  konsekuen dan benar serta tidak berpihak. Terdapat beberapa hal penting yang harus diterapkan dalam rencana strategi aksi dalam mengatasi perburuan dan perdagangan illegal gajah, adalah:

  1. Melakukan monitoring perburuan gajah secara intensif di Sumatera dan Kalimantan.
  2. Meregistrasi gajah captive dan stockpiles gading gajah yang di lembaga  konservasi pemerintah dan swasta untuk menghindari perdagangan illegal gajah dan gading gajah
  3. Memperbaiki sistem penegakan hukum, penerapan sanksi yang jelas dan peningkatan kapasitas aparat penegak hukum.
  4. Mensosialisasikan hukum dan perundang-undangan yang berlaku serta membentuk koordinasi lintas sektoral untuk mengeffektifkan proses penegakan hokum
  5. Melakukan kampanye penyadartahuan dan konservasi gajah sumatera dan kalimantan secara regular kepada semua lapisan masyarakat
  6. Menetapkan peraturan-peraturan daerah yang mendukung konservasi gajah

Nah, begitulah kira-kira nasib dan status serta upaya yang telah dilakukan untuk melestarikan mamalia besar ini.. Semoga kelestarian Gajah Sumatera ini tetap terjaga ya… Demikianlah tulisan saya ini, semoga bermanfaat ya….

Sumber :Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam – Departemen Kehutanan RI. 2007. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan 2007 – 2017. Jakarta.

Syahri, B., Haris Gunawan, Herawati S. 2015. Analisis Mikrosatelit Pada Sampel Feses Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) Di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. JOM FMIPA. 2(1):42-49.


3 responses to “Mammalia Besar dan Langka yang semakin terancam…”

  1. Viera says:

    Sudah lengkap lengkap informasinya. Hanya saja layout kurang menarik dibaca dan fotonya kurang banyak 😀 goodjob bang yospy!

  2. Orta Yudhistira says:

    Akan lebih baik jika dibuat tempat penangkaran gajah yg luas dan gajah tidak dapat keluar dari tempat tersebut dan hanya orang2 tertentu yg dapat masuk ke tempat penangkaran tersebut, sehingga para gajah pun juga tidak dapat merusak tanaman milik penduduk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php