Alphonsus Yospy Guntur D

Badak Jawa,, Kemanakah dirimu..???

Posted: September 1st 2015

hallo guys, selamat datang di blog ku.. Dengan semua kekurangan, keberantakan dan panjangnya.. hahaha.. tapi semoga bisa menambah wawasan ya. hehehehe…. Nah, ada sedikit ilmu ni tentang Badak. Adakah yang tau tentang Badak Jawa? Badak Jawa ini biasanya sering disebut juga Badak bercula satu dengan nama ilmiahnya Rhinoceros sondaicus. Kita juga tau dong kalo Badak Jawa ini sudah hamper punah. Berdasarkan data WWF, Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan spesies yang paling langka di antara 5 spesies yang ada di dunia. Badak Jawa ini dikategorikan sebagai critically endangered atau terancam punah dalam Red List  Data  Book  yang  dikeluar kan  oleh  IUCN (International  Union  for  Conservation  of  Nature  and Natural Resources) pada tahun 1978.

Ada yang tau ancaman terbesar Badak Jawa? Nah ini jawabannya, Badak jawa menghadapi ancaman yang paling besar yaitu diburu oleh manusia  untuk  diambil  culanya. Ancaman  terbesar  ini disebabkan oleh berkembangnya anggapan bahwa cula badak mempunyai khasiat dalam pengobatan tradisional Cina. Selain itu, sebagai satwa yang memiliki sebaran terbatas, potensi terjadinya inbreeding menjadi semakin besar,  yang  pada  akhirnya  dapat  mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas genetik badak. 

Maka, perlu dilakukan kegiatan konservasi Keragaman hayati (biodiversity) salah satunya dengan cara penentuan keragaman genetik. Dengan studi genetik, maka informasi tentang keragaman antar individu di dalam dan antar populasi, terutama pada spesies-spesies yang terancam punah dapat diketahui. Perkembangan teknik molekuler sekarang  ini  seperti penemuan  teknik  PCR (Polymerase  Chain  Reaction)  yang  mampu mengamplifikasi untai DNA hingga mencapai konsentrasi tertentu,  penggunaan  untai  DNA  lestari  ( conserved) sebagai  penanda  dalam  proses  PCR,  penemuan  lokus mikrosatelit yang hipervariable, dan penemuan metodesekuensing  DNA,  telah  menyebabkan  ilmu  genetik molekuler mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam studi  biologi  suatu  populasi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih penanda DNA dalam analisis keragaman genetik suatu populasi adalah bahwa polimorfisme yang terdapat dalam penanda DNA bersifat netral dan keragaman genomik suatu populasi dapat diwakili hanya dengan penggunaan sejumlah lokus bebas.

Dalam pemilihan penanda DNA harus disesuaikan dengan tujuan analisis yang ingin dicapai. Untuk analisis keragaman genetik dan struktur populasi, maka marker DNA  yang  umum  digunakan  lebih  dari  satu  dekade terakhir  adalah  mikrosatelit  karena  sifatnya  yang polimorfik dan kodominan. Mikrosatelit dapat digunakan untuk  sejumlah  analisa  molekuler  seperti  pemetaan genetik,  linkage analysis dalam kaitannya dengan gen penyebab penyakit tertentu, dan sejumlah analisis genetik populasi. Dalam analisis genetik populasi, keragaman lokus  mikrosatelit  telah  digunakan  untuk  mengetahui keberadaan hibridasi antar spesies. Perbandingan derajat keragaman mikrosatelit antar spesies dan populasi juga berguna  dalam  penilaian  keragaman  genetik  secara keseluruhan. Mikrosatelit juga dapat digunakan untuk menduga ukuran populasi, derajat substruktur populasi termasuk  jumlah  migrasi  antar  subpopulasi  serta hubungan genetik di antara subpopulasi yang berbeda. Selain itu, mikrosatelit juga dapat digunakan dalam analisis silsilah dan kekerabatan serta sejarah populasi.

Berdasarkan hasil penelitian yang  melakukan  penelitian  tentang  keanekaragaman genetik, sejarah evolusi (silsilah) dan konservasi badak jawa  dengan  cara  menganalisis  DNA  mitokondria (mtDNA) dari 2 populasi badak jawa yang masih hidup di Ujung Kulon dan di Taman Nasional Cat Tien (TNCT) di Vietnam. Oleh karena statusnya yang terancam punah, maka dalam pengambilan  contoh  badak  jawa  sangat  terbatas sehingga DNA yang diekstrak berasal dari kotorannya (feses). Bagian-bagian dari mtDNA gen 12 S rRNA dan D-Loop kemudian diamplifikasi dengan PCR dan disekuen.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pada Lokus 12S, semua sampel dari Ujung Kulon dan museum Bogor memiliki haplotipe yang identik. Semua contoh dari TNCT adalah haplotipe tunggal yang berbeda dari haplotipe Ujung Kulon dengan 4 transisi. Rangkaian badak jawa yang dipublikasikan identik dengan haplotipe dari Ujung Kulon. Metode yang berbeda dari analisis filogenetik semuanya menempatkan badak jawa dan badak india sebagai anggota yang kekerabatannya jauh dari  clade badak bercula satu. Perbedaan rangkaian interspecies  yang teramati antara badak jawa dan badak india adalah 3,3-3,5% dan antara 2 genera badak afrika adalah 4,0-4,7%. Perbedaan rangkaian pada segmen 12S antara 2 haplotipe badak jawa dari Ujung Kulon dan TNCT adalah 0,5%, perbedaan antara subspesies dari badak putih (C. s. simum dan C. s. cottoni) adalah 0,9% dan antara badak hitam (D. b. michaeli dan  D. b. minor) adalah 0,5%. Tidak ada perbedaan rangkaian yang teramati pada adaptif adalah hal yang harus segera dilakukan guna penyelamatan  badak  jawa  tersebut.  Jika  kita mengkonservasikan badak jawa, komunitas konservasi internasional  juga  perlu  memainkan  peran  penting, terutama dalam masalah penyediaan dana dan mendukung serta mendampingi kearifan lokal dalam konservasi dan manajemen badak jawa. Apabila kita tidak melakukan upaya  yang  cepat,  ini  akan  sungguh-sungguh  tragis karena kita membiarkan badak jawa punah di depan mata.

Nah, semoga tulisan yang sangat acak-acakan ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan. Selamat membaca ya.. Komen juga boleh lo.. sangat disarankan malah.. wkwkwk.. Terima Kasih..!!!

Sumber            : Mamat Rahmat. 2009. Genetika Populasi dan Strategi Konservasi Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest 1822). Jurnal Manajemen Hutan Tropika 15(2): 83-90

 


12 responses to “Badak Jawa,, Kemanakah dirimu..???”

  1. monicaratnasari says:

    Proficiat untuk tulisanmu ya Yospy! Dengan blog ini dapat memberi informasi tentang keragaman antar individu di dalam dan antar populasi, terutama pada spesies-spesies yang terancam punah menjadi mudah diketahui. Semoga dapat terus berkembang! Keep the spirit on 🙂

  2. destri says:

    Tulisan yang sangat informatif. Ternyata dengan perkembangan teknologi yang sudah maju membuat banyak hal yang dahulu tidak mungkin menjadi mungkin seperti menganalisis DNA dari feses badak, dan mikrosatelit ternyata memiliki banyak fungsi. Semoga dengan banyaknya upaya konservasi badak jawa menyadarkan masyarakat untuk tidak lagi berburu badak jawa untuk di ambil culanya dan upaya konservasi badak jawa dapat berhasil.

  3. ayushantyhapsary says:

    informasi menarik mengenai adanya teknologi marker DNA untuk melacak garis keturunan baik persamaan dan perbedaan antar satu spesies. semoga informasi yang ditemukan dapat lebih beragam lagi mengenai kelanjutan teknologi tersebut. terimakasiii .. 🙂

  4. beathrine says:

    Ya jika melihat badak bercula satu miris rasanya jika harus membunuh si badak padahal yang mau diambil culanya. Yap, ini merupakan informasi yang sangat menarik sekali. Teknologi marker DNA dapat menjawab salah satu permasalahan dalam kasus konservasi.

  5. elvinadea says:

    Sedih rasanya mengetahui makin meningkatnya angka kelangkaan berbagai spesies di dunia. Tidak hanya badak jawa, namun berbagai spesies lain keberadaannya di muka bumi ini sudah mulai memprihatinkan. Semoga dengan semakin canggihnya teknologi yang ada, terutama di bidang molekuler, semakin dapat membantu upaya konservasi spesies2 yang terancam keberadaanya tadi sehingga keberagaman yang ada tidak berkurang terus menerus .

  6. Stefanie G. I says:

    Tulisan yang sangat bermanfaat. untuk tambahan saja, cula badak dalam pengobatan tradisional cina dipercaya sebagai sumber vitamin dan pengobatan berbagai penyakit seperti kanker, walaupun belum dilakukan penelitian akan hal ini. Semoga saja pemerintah dapat menyelamatkan badak jawa sebelum binatang ini benar2 punah.

  7. bisa dibilang ancaman terbesar bagi badak jawa tidak hanya perburuan liar namun juga ancaman dari badak itu sendiri. seperti yang ditulis di atas, semakin kecil populasi maka semakin tinggi tingkat terjadinya inbreeding, dimana yang saya tahu hal tersebut akan menyebabkan cacat bahkan kematian bagi organisme yang melakukannya. melalui teknologi molekuler ini semoga badak jawa terhindar dari hal-hal yang mempercepat kepunahannya. tks

  8. ayutiya95 says:

    Tulisan yang bagus…. badak bercula satu memang sudah tergolong spesies yang hampir punah… melalui tulisan anda, pasti banyak pembaca yang memiliki wawasan baru dan mengetahui bahwa permasalahan tersebut dapat diatasi dengan pendekatan molekuler, apalagi mengingat bahwa bidang ekologi dan molekuler kurang diketahui oleh masyarakat awam.

  9. Terima kasih atas informasi yang diberikan. Informasi yang diberikan semakin membuka wawasan. Semoga semakin banyak yang tertarik melakukan konservasi terutama untuk spesies-spesies yang terancam punah.

  10. valleryathalia says:

    sangat informatif. membuka wawasan pembaca mengenai status badak jawa yang terancam punah. semoga usaha konservatif dapat berjalan dengan baik 🙂

  11. etti14 says:

    badak bercula satu ini memang dapat dikatakan hampir punah,,, karena pemburuan culanya,, ini perlu kesadaran dari masyarakat juga untuk melestarikan hewan di indonesia

  12. clararequinta says:

    waw…informasi yang sangat menarik dan bermanfaat sekali, terlebih mengenai metode. Dan baru tau juga kalau dalam pengambilan contoh badak jawa sangat terbatas sehingga DNA yang diekstrak berasal dari kotorannya (feses). terimakasih informasinya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php