She's Blog : WELCOME

Anakku? Anakmu? Aku Anak Siapa?

Posted: May 13th 2014

“Dia bukan anakku! Dia bukan darah dagingku!”

 

Peristiwa tidak diakuinya seorang anak oleh ayah atau ibu kandungnya memang bukan merupakan hal yang jarang terjadi. Hal ini membuka peluang bagi kebanyakan ilmuan untuk menemukan cara dalam memecahkan permasalahan tersebut, salah satunya adalah dengan pendekatan molekuler. Melalui pendekatan molekuler, DNA sang anak dapat diteliti apakah cocok dengan DNA yang diduga sebagai ayah atau ibu kandungnya.

Tes DNA yang dapat digunakan dalam meneliti kasus di atas antara lain tes maternitas dan tes paternitas. Tes maternitas merupakan tes DNA untuk menentukan apakahh seorang wanita adalah ibu biologis dari seorang anak, sedangkan tes paternitas adalah tes DNA untuk menetukan apakah seorang pria adalah ayah biologis dari seorang anak. Pola pewarisan sifat dalam kasus ini merupakan pola pewarisan mitokondria. Keunikan pola pewarisan DNA mitokondria menyebabkan DNA mitokondria dapat digunakan sebagai marker untuk mengidentifikasi hubungan kekerabatan secara maternal.

Pada tes maternitas, identifikasi DNA dilakukan dengan membandingkan DNA mitokondria ibu dengan DNA mitokondria anak. DNA mitokondria (mtDNA) adalah genom manusia di luar inti, beruntai ganda dan berbentuk sirkular. MtDNA diturunkan secara maternal karena itu tidak ada rekombinasi. Pada mtDNA terdapat daerah kontrol yang tidak menyandi protein (non coding region) yang disebut sebagai D-loop sepanjang 1122 bp, yang merupakan daerah Hypervariable region 1 (HVR1) dan HVR2. Daerah ini dipakai sebagai marker DNA forensik karena sangat bervariasi antar individu.

Identifikasi DNA untuk tes paternitas dilakukan dengan menganalisa pola DNA menggunakan marka STR (short tandem repeat). STR adalah lokus DNA yang tersusun atas pengulangan 2-6 nukleotida. Dalam genom manusia dapat ditemukan pengulangan nukleotida yang bervariasi jumlah dan jenisnya. Identifikasi DNA dengan marka STR merupakan salah satu prosedur tes DNA yang sangat sensitif karena marka STR memiliki tingkat variasi yang tinggi baik antar lokus STR maupun antar individu.  Dalam tes digunakan 13 CODIS STR core Loci, yang sesuai dengan standar kualifikasi untuk pemeriksaan DNA.

Pada tes paternitas, jika pola DNA pada 13 CODIS STR dari terduga ayah dan anak cocok, kemungkinan seseorang adalah ayah biologis anak tersebut adalah 99,99 %. Jika DNA terduga ayah dan anak tidak cocok maka orang tersebut 100% dinyatakan bukan ayah biologis anak tersebut.

Pada tes maternitas, karena DNA mitokondria hanya diwariskan secara maternal pada anaknya, maka kemungkinan seseorang adalah ibu biologis dari anak tersebut adalah jika 99% pola DNA mitokondria seorang ibu sama dengan pola DNA mitokondria anak. Jika tidak ada kecocokan, maka seseorang dinyatakan 100% bukan ibu biologis anak tersebut.

Sampai saat ini, solusi ini dianggap sebagai solusi yang paling tepat dalam menangani masalah tersebut karena keakuratannya yang tinggi. Sebagai biologiwan, sudah seharusnya kita mendalami lebih lagi mengenai dunia molekuler.

 

Agustina Arsiawati Alfa Putri / 110801193

 

 

 


5 responses to “Anakku? Anakmu? Aku Anak Siapa?”

  1. deansadewo24 says:

    arsi, bagus artikelnya, sangat aktual dan sesuai dengan lingkungan hidup kita dan kenyataan serta fakta di sekitar kita, sehingga kita mampu mengenal molekuler lebih dekat..lanjutkan…mungkin lebih ditambah lagi visualisasi media…trims

  2. alfonslie says:

    informasi yang sangat menarik mbak arsi.. mungkin bisa ditambahkan foto/atau gambar untuk menambah daya tarik penampilan blog anda.

  3. maria says:

    makasih infonya

  4. agungprayogo says:

    woow, info yg sangat menarik mba arshe, sangat menambah pengetahuan di dunia molekuler, lanjutkan..forza

  5. lidia says:

    huwiiiii~ info yg menarik banget. jadi makin tau deh gimana caranya nemuin orang tua kandung

    happy bloging 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php