Agnes

MOLEKULER MEMBUKTIKAN ADANYA EKSPLOITASI IKAN DI INDONESIA

Posted: September 1st 2015

Sebagai Negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi, Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam yang berlimpah, khususnya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia memiliki ekosistem lengkap yang berperan sebagai habitat bagi ikan dan organisme lainnya mencari makan, bertelur dan berpijah. Menurut Budiman dkk. (2002), kekayaan jenis ikan di Indonesia sangat tinggi. Diperkirakan 8500 jenis ikan hidup di perairan Indonesia dan merupakan 45% dari jumlah jenis global di dunia.coral-reef-TNC1

Gambar 1. Keanekaragaman Ikan di Indoneia (Sumber : Mongabay)

Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan tangkap sebesar 6,4 juta ton per tahun dengan produksi perikanan tangkap di laut sekitar 4,7 juta ton dari jumlah tangkapan yang diperbolehkan maksimum 5,2 juta ton per tahun (Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, 2011). Di lain pihak, sumber daya laut di beberapa wilayah perairan di Indonesia sedang menghadapi suatu kondisi yang dinamakan overfishing. Keadaan sumber daya laut di suatu daerah yang mengalami tingkat penangkapan yang berlebih, dikarenakan tingkat eksploitasi yang tinggi yang tidak sebanding dengan kemampuan sumber daya ikan untuk diperbaharui kembali. Salah satu akibat dari overfishing adalah munculnya pari hibrida.

Apa itu pari hibrida?

Pari hibrida atau hasil kawin silang antar-jenis ditemukan lewat analisis DNA sejumlah sampel pari tutul (Himantura uarnak) yang diambil dari Laut Jawa. Adanya pari hibrida diduga terkait dengan eksploitasi ikan secara berlebihan di perairan tersebut.

foto-peneliti-adanya-spesies-pari-hibrida-di-laut-jawa-disebabkan-eksploitasi-berlebihan

Gambar 2. Ikan Pari Hibrida (Sumber: National Geographic)

Bagaimana bisa?

Menurut Arlysa (2014), dari sejumlah 113 sampel yang diambil dari 8 lokasi, hanya 1 induvidu Himantura umbulata yang terkoleksi.yang diambil dari Laut Jawa. Setelah dilakukam analisis secara molekuler, ditemukan pari hibrida, yang artinya H. umbulata kawin dengan spesies lain. Padahal, satu spesies hanya akan mampu kawin dengan spesies yang sama. Ketika spesies H. umbulata tidak menemukan pasangan dan  “memaksa diri” kawin dengan spesies berbeda maka akan muncul pari hibrida yang sifatnya steril sehingga populasi H. umbulata akan semakin menurun.

Bagaimana molekuler bekerja?

Perkembangan ilmu dan pengetahuan dalam biologi molekuler, khususnya pada pengkajian karakter bahan genetik telah menghasilkan kemajuan yang sangat pesat bagi perkembangan penelaahan suatu organisme dan pemanfaatannya bagi kesejahteraan manusia. Di bidang taksonomi, sebagai contoh Avise & Lansman (1983) dan Brown (1983) mengungkapkan peran DNA mitokondria (mtDNA) dalam studi keanekaragaman genetika dan biologi populasi pada hewan. mtDNA dapat digunakan sebagai penanda genetika karena ukurannya relatif kecil. Secara umum penggunaan teknik molekuler untuk tujuan identifikasi suatu organisme mempunyai keunggulan seperti lebih akurat, lebih cepat dan untuk mikroba dapat mencakup keseluruhan mikroba termasuk yang “viable but not yet culturable”.

Dalam mengkaji keragaman genetik suatu spesies dapat dilihat dengan DNA (Deoxyribo Nucleid Acid) inti maupun DNA mitokondria (mtDNA). Pada umumnya mtDNA banyak digunakan dalam mengidentifikasi suatu spesies (Kyle dan Wilson 2007). Pada mtDNA memiliki banyak lokus, salah satunya lokus COI. DNA mitokondria dengan lokus COI mampu mendiskriminasikan spesies dengan akurat berdasarkan struktur dan komponen penyusun DNA serta memberikan informasi kedekatan spesies melalui filogenetik (Brooks dan McLennan, 1991).

Sungguh bermanfaat sekali bidang molekuler dalam menelusuri tindak kejahatan eksploitasi ikan. Semoga setelah membaca laman ini, kita sebagai generasi muda dapat bertindak untuk mencegah tindak eksploitasi satwa-satwa khususnya di Indonesia! 😀

 

SUMBER:

Arlyza, I.S. 2014. Pari Hibrida Diduga Terkait Eksploitasi Ikan Berlebihan di Laut Jawa. http://sains.kompas.com/read/2014/04/03/2139331/Pari.Hibrida.Diduga.Terkait.Eksploitasi.Ikan.Berlebihan.di.Laut.Jawa (30 Agustus 2015)

Brooks DR, McLennan DA. 1991. Phylogeny, Ecology, and Behavior : A Research Program in Comparative Biology. Chicago (US): University of Chicago Press.

Budiman. A., Arief, A. J. dan Tjakrawidjaya, A. H. 2002. Peran Museum Zoologi dalam Penelitian dan Konservasi Keanekaragaman Hayati (Ikan). Jurnal Iktiologi Indonesia 2(2):51-55

Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2011. Panduan Jenis-Jenis Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan, Jakarta.

Kyle, C.J. dan Wilson, C.C. 2007. Mitochondrial DNA Identification of Game and Harvested Freshwater Fish Spesies. Forensic Science Internasional 166(1): 68-76.

Lucanus, O. 2014.  Peneliti : Adanya Spesies Hibrida di Laut it i:Disebabkan Eksploitasi Berlebihan. http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/04/peneliti-adanya-spesies-pari-hibrida-di-laut-jawa-disebabkan-eksploitasi-berlebihan (30 Agustus 2015)

 

 


One response to “MOLEKULER MEMBUKTIKAN ADANYA EKSPLOITASI IKAN DI INDONESIA”

  1. friskaunandy says:

    Wah, kasihan kalau pari-pari saja sampai tidak punya pasangan dr spesiesnya yg sama dan harus terpaksa kawin dengan spesies yg berbeda 🙁
    Nah, kak Agnes, kalau misalnya mau diteliti apakah pari ini adalah pari hibrida atau bukan, berarti harus di tangkap kan? Meskipun dengan cara sprti ini lebih akurat, bgmn cara memeriksa pari-pari di alam yg jumlahnya mencapai ribuan ekor? thanks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php