Agnes

Karena Timah ‘Aku’ Menduduki Peringkat Dua

Posted: March 4th 2015

Bukan menjadi rahasia lagi jika Kepulauan Bangka-Belitung (Babel) dikenal sebagai penghasil timah dunia. Keberadaan harta karun berupa urat-urat timah di perut bumi menjadikan Pulau Belitung sebagai primadona yang diperebutkan banyak pihak. Kepulauan Bangka-Belitung merupakan daerah penghasil timah terbesar di Indonesia.

Timah? Bangka Belitung? Indonesia? Jangan-jangan ada yang belum tau timah itu apa dan bentuknya seperti apa? Jangan sampai sebagai penduduk Indonesia yang merupakan salah satu negara penghasil timah terbesar di dunia tidak tahu timah itu sperti apa. Sebelum dibilang KUDET, pada tulisan ini akan dibahas sumber daya mineral timah.

Pengertian Timah

Timah merupakan logam alotropi, yaitu memiliki perubahan struktur kristal pada keadaan padat. Pada kondisi normal, suhu 13°C – 161°C berada pada fase beta (timah beta) berwarna perak dan dapat ditempa. Diatas suhu 161°C berubah menjadi timah gama, pada fase ini sangat rapuh, mudah dihancurkan menjadi serbuk halus. Dibawah 13°C berubah menjadi fase alpha, pada fase ini struktur kristalnya diamond yang sangat keras (Latief, 2008).

Gambar 1. Bijih Timah

Gambar 1. Bijih Timah

Timah punya sifat tahan karat ketika terkena air tetapi tidak tahan terkena asam dan alkali. Ia tidak terlalu terpengaruh oleh air dan oksigen pada suhu kamar, tidak karatan dan tidak mudah korosi. Selain itu, timah mudah larut dalam asam pekat dan dalam larutan alkali panas. Timah juga bereaksi dengan unsur-unsur halogen membentuk senyawa seperti timah klorida dan tima bromida. Titik leburnya yaitu 231,86°C, titik didih 2270°C, kekerasan dan kekuatan tarik rendah, konduktivitas panas dan listrik tinggi, tahan terhadap korosi.

Biji timah yang disebut kasiterit (cassiterite) merupakan timah oksida (SnO2), berwarna kuning muda hingga coklat, tergantung unsur pengotornya. Timah diperoleh dari pemurnian kasiterit (proses metalurgi) dalam dapur lebur (smelter).

Sebelum dilebur bijih timah diproses awal yang meliputi: pemanggangan (roasting), pelarutan (leaching) dan pemisahan secara magnetik. Pemanggangan bertujuan untuk memisahkan bahan-bahan yang mudah menjadi gas seperti belerang, arsen dan antimon. Pelarutan dengan menggunakan asam hidrochlorida (HCl) untuk memisahkan Fe, Pb, As, pada suhu 130°C. Setelah di leaching bijih dipisahkan secara magnetik, hingga diperoleh consentrate casiterit.

Pemurnian atau pengambilan logam timah dari konsentrat ini menggunakan proses pyrometalurgy, yaitu melibatkan proses pemanasan. Proses peleburan dilakukan dalam dapur nyala api atau dapat juga dilakukan dalam dapur listrik, hasilnya didapat timah kasar (pig tin). Agar dapat memenuhi permintaan pasar dengan standar tertentu, timah kasar ini diproses lagi (refining).

Manfaat Timah

Ada yang tau gak hampir setiap hari kita bertemu dengan si mineral ini? ternyata kemasan makanan atau minuman yang terbuat dari kaleng, salah satu bahan yang melapisi yaitu timah. Selain itu, timah juga digunakan sebagai bahan solder/pateri bila dipadu dengan timbal dan bismuth, apabila dipadu dengan tembaga diperoleh logam perunggu. Timah dapat diubah menjadi sedemikian licin dan dimanfaatkan untuk melapisi logam lain. Hal ini bertujuan untuk mencegah timbulnya korosi serta aksi kimia. Lapisan tipis timah yang terdapat pada baja dimanfaatkan untuk memperpanjang umur makanan. Timah merupakan logam ramah lingkungan, penggunaan untuk kaleng makanan tidak berbahaya terhadap kesehatan manusia.

Campuran logam timah sangat penting dalam pembentukan solder lunak, logam babbit, perunggu, logam bel, serta logam putih. Timah yang disemprotkan pada bidang gelas dipergunakan untuk membuat lapisan konduktor listrik. Aplikasi jenis ini telah dipergunakan untuk jenis kaca mobil yang tahan terhadap beku. Pada umumnya kaca jendela yang dijumpai sekarang terbuat dari gelas cair dalam timah cair yang berguna untuk membentuk permukaan datar atau proses pilkington.

“The Indonesian Tin Belt”

Indonesia merupakan produsen timah terbesar di dunia, dimana merupakan ”The Indonesian Tin Belt” yang tersebar di wilayah Pulau Karimun, Kundur, Singkep dan sebagian di daratan Sumatera, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau sampai Sebelah Barat Kalimantan.

Gambar 2. Pertambangan Timah

Gambar 2. Pertambangan Timah

Saat ini, Indonesia, menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menduduki peringkat ke-6 sebagai negara yang kaya akan sumber daya tambang. Selain itu, dari potensi bahan galiannya untuk batubara, Indonesia menduduki peringkat ke-2 untuk produksi timah.

Gambar 3. Peta Potensi Timah di Indonesia

Gambar 3. Peta Potensi Timah di Indonesia

Berdasarkan informasi dan US Geological Survey 2006 disebutkan bahwa cadangan terukur timah di Indonesia adalah 60.000 ton/tahun atau setara dengan 90.000 ton/tahun pasir timah. Cadangan tersebut akan mampu bertahan sekitar 10 hingga 12 tahun lagi hingga tahun 2017-2019. Sumber daya timah ini menyimpan potensi ekonomi dengan nilai sekitar US$ 18 miliar atau Rp 190 Triliun,” jelas Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjahmada, Nuryati Attamimi  pada orasi ilmiahnya saat upacara wisuda ke 2 Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Pahlawan 12 Bangka, Sabtu (22/3/2014) di Hotel ST 12 Sungailiat.

Permasalahan

Tanpa disadari, eksploitasi sumber daya alam yang tidak bertanggungjawab mendatangkan petaka bagi alam dan manusia yang menghuninya. Sejak dikeluarkannya keputusan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan, yang tidak lagi mencantumkan kata ‘timah’ dalam daftar barang-barang ekspor yang diawasi atau diatur pemerintah Keputusan Menperindag No. 146/MPP/Kep/4/1999 tanggal 22 April 1999. Pertambangan timah di Indonesia semakin meraja lela.

Keputusan ini berimplikasi bahwa siapapun berhak memasarkan timah. Hal ini kemudian diikuti dengan dikeluarkan peraturan daerah Nomor 6 Tahun 2001 yang pada dasarnya memberi akses kepada masyarakat Bangka untuk menambang (Erman, 2010).

Yulita (2011), menyebutkan penggunaan lahan untuk aktivitas penambangan cenderung mengalami kenaikan. Luas lahan tambang pada tahun 2000 adalah sebesar 13.490 ha (6,0%), tahun 2004 sebesar 18.350 ha (8,1%) dan tahun 2010 luasannya sebesar 26.640 ha (11,8%). Lahan tambang meningkat setiap tahunnya dengan laju rata-rata sekitar 1.315 ha per tahun dimana antara tahun 2000-2004 laju peningkatan luas lahan tambang sebesar 1.215 ha per tahun dan tahun 2004-2010 peningkatan tersebut mencapai 1.381,67 ha per tahun.

Penambangan timah lepas pantai dapat meningkatkan produktivitas pertambangan timah di masa mendatang, namun hal ini akan mengakibatkan kerusakan lingkungan jika tidak dilakukan sesuai dengan prosedur. Connel dan Miller (2006), menyebutkan bahwa ekploitasi timbunan bijih akan membongkar permukaan batuan baru dan sejumlah besar sisa-sisa batu atau tanah sehingga akan mempercepat kondisi pelapukan. Beberapa elemen yang merupakan logam ikutan yang mungkin dilepaskan ke lingkungan karena perubahan kondisi fisika kimia dalam fase mineral sekunder adalah Fe, Mn, Cu, Zn, Cd, Pb, W, Bi, Mo, Cr, Ni, Co, As dan U.

Selain itu, penambangan yang dilakukan oleh masyarakat dapat menimbulkan dampak terhadap kerusakan lingkungan. Penambangan yang dilakukan oleh masyarakat tanpa izin hanya menguntungkan secara sepihak, tidak adanya pengelolaan lingkungan, jumlah yang banyak dan cenderung berpindah tempat. Penambangan yang dilakukan oleh masyarakat tanpa izin hanya menguntungkan secara sepihak, tidak adanya pengelolaan lingkungan, jumlah yang banyak dan cenderung berpindah tempat. Harian Kompas (2011), menyatakan bahwa izin operasi untuk 34 dari 67 kapal isap pasir timah di pesisir pulau Bangka diduga kuat tidak jelas, hal ini akan menyulitkan pengawasan terhadap kapal hisap.

Gambar 3. Dampak Pertambangan Timah

Gambar 4. Dampak Pertambangan Timah

Penambangan timah lepas pantai pun juga akan mengakibatkan terjadinya akumulasi logam berat pada ikan yang hidup di laut. Selain logam berat, pencemaran yang terjadi juga adalah kekeruhan perairan. Hal ini akan mengakibatkan menurunnya kualitas perairan. Beberapa ekosistem sangat rentan terhadap kekeruhan perairan. Kondisi perairan yang keruh juga akan mempengaruhi pemijahan cumi-cumi di perairan. Cumi-cumi akan menunda pemijahan bila kondisi laut dan lingkungan belum sesuai, pembutaan akan mengakibatkan kelenjar optik dan gonad matang terlalu cepat/belum saatnya.


 

Daftar Pustaka

http://www.tekmira.esdm.go.id/data/Timah/Potensi.asp?xdir=Timah&commId=31&comm=Timah)

http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/menyelamatkan-kehancuran-pertambangan-timah-bangka-belitung-1.htm#.VPFwFy6IX64

http://bangka.tribunnews.com/2014/03/22/survei-cadangan-timah-hanya-untuk-12-tahun

http://www.ima-api.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1937:potensi-dan-tantangan-pertambangan-di-indonesia&catid=47:media-news&Itemid=98&lang=id

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=94526&val=2170

Connell, D. W. dan Miller, G. J. 2006. Kimia dan Otoksikologi Pencemaran. Cetakan Pertama. UI Press, Jakarta.

Erman, E. 2010. Aktor, Akses dan Politik Lingkungan di Pertambangan Timah Bangka. Masyarakat Indonesia. Edisi XXXVI/No.2/2010.

Harian Kompas. 2011. Izin Kapal Isap Timah Tidak Jelas. http://health.kompas.com/read/ 2011/08/02/04574577/Izin.Kapal.Isap.Timah.Tidak.Jelas. 1 Maret 2015.

Puspita, G. 2012. PT Timah Resmikan Kapal Bor Geotin 3. http:// bangka. tribunnews. com/ 2012/10/24/pt-timah-resmikan-kapal-bor-geotin-3. 1 Maret 2015.

Yulita, Pratiwi. 2011. Perubahan Penggunaan Lahan di Kabupaten Bangka Tengah. Tugas Akhir. Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta

TUGAS MATA KULIAH “KONSERVASI SUMBER DAYA LINGKUNGAN”

Disusun oleh:

Cathy

Santha

Unand

Rian

 


One response to “Karena Timah ‘Aku’ Menduduki Peringkat Dua”

  1. Govedu says:

    tetap smangat 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php