Agnes

Bekantan Kusayang, Bekantan Kumalang

Posted: September 9th 2014

Bekantan_kidnesiathumb630x368

Adakah dari kita yang pernah mendengar atau bahkan melihat langsung seekor bekantan? Bekantan atau Nasalis larvatus, merupakan primata langka dan endemik Borneo. Satwa ini mempunyai morfologi yang khas yaitu pada jantan dewasa memiliki hidung yang besar, menonjol agak menggantung, memiliki selaput pada jari kaki dan jari tangannya serta sistem pencernaannya yang menyerupai sistem pencernaan pada hewan berlambung ganda. Adanya variasi warna bulu pada bagian-bagian tubuh tersebut merupakan dasar dalam membedakan sub-spesies bekantan yang ada, yaitu Nasalis larvatus larvatus dan Nasalis lavartus orientalis, hal ini dikemukakan oleh Kern pada tahun1964.

Hewan yang menjadi fauna maskot  Provinsi Kalimantan Selatan dan sebuah taman rekreasi terkenal di Jakarta ini, telah dilindungi secara nasional maupun internasional. Secara nasional, dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 tahun 1999. Sedangkan secara internasional termasuk dalam Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) dan juga termasuk dalam kategori endengered species berdasarkan Red List IUCN (International Union for the Conservation of Natural and Natural Resources) sejak tahun 2000.

bekantan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

bekantanstandup

Menurut Meijaard dan Nijman (2000), perburuan bekantan di Pulau Siberut sudah merupakan bagian kebudayaan dan adat masyarakat. Hal ini dilakukan sebagai kontrol populasi karena di pulau tersebut tidak terdapat mamalia predator. Perburuan dan perladangan adalah masalah utama dalam penurunan populasi bekantan, terutama sejak 35 tahun lalu di mana kepemilikan senjata buru dan speed boat mulai berkembang di masyarakat di daerah tepi sungai yang merupakan habitat utama bekantan. Berkembangnya perladangan dengan menanam buah-buahan menyebabkan bekantan mendatangi ladang untuk mendapatkan pakan. Hal ini menimbulkan anggapan bahwa bekantan sebagai hama dan diburu. Selain itu, bekantan juga diburu sebagai umpan untuk menangkap biawak, karena kulit biawak merupakan sumber mata pencaharian tambahan bagi penduduk setempat.

Upaya penangkaran bekantan telah dilakukan oleh beberapa lembaga konservasi ex-situ seperti di Taman Safari Indonesia I Cisarua, Kebun Binatang Bronx, Kebun binatang Singapura, Taman Safari Indonesia II Prigen, Pusat Satwa Primata Schmutzer dan juga Kebun Binatang Surabaya. Selain itu, beberapa strategi telah ditemukan yaitu dengan dilakukannya penetapkan beberapa area habitat bekantan yang relatif masih aman sebagai area perlindungan bekantan seperti yang dilakukan di Kota Tarakan yaitu Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB), cara tersebut dapat diadopsi dan diimplementasikan di Pulau Siberut. Kemudian, perlu  diadakan sosialisasi kepada masyarakat atau bahkan anak-anak sekolah dasar untuk menyampaikan tentang kondisi keanekaragaman hayati yang ada di sekitarnya, terutama bekantan dan habitatnya, pengaruh dan akibat kerusakan-kerusakan lingkungan terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari, serta pemberian solusi cerdas untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati. Kegiatan pengembangan ekowisata juga dapat dilakukan dimana konsep tersebut akan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal dengan pariwisata back to nature. Dan yang terakhir, translokasi diharapkan menjadi langkah penyelamatan bekantan. Hal tersebut mengingat bekantan termasuk primata yang hidup berkelompok dan sangat sensitif dengan kehadiran manusia. Lokasi tujuan translokasi dapat berupa lokasi di alam yang relatif aman dan dapat menjamin kehidupan bekantan. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk kita generasi muda ikut terjun dalam kegiatan konservasi satwa di Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Bekantan-2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Kern, J. A. 1964. Observation on The Habit of  The Proboscis Monkey, Nasalis
larvatus.  Borneo Zoologica. Bruney Bay. 49:183-192

Meijaard, E. and V. Nijman. 2000. Distribution and Conservation of  The Proboscis Monkey (Nasalis
larvatus) in Kalimantan, Indonesia. Biological Conservation. 92:15-24.

Meijaard, E., V. Nijman and  J. Supriatna. 2008. Nasalis larvatus. In: IUCN 2010. IUCN Red List of
Threatened Species. Version 2010.2. http://www.iucnredlist.org

 


7 responses to “Bekantan Kusayang, Bekantan Kumalang”

  1. alanpeter says:

    Apakah ada usaha – usaha konservasi lain yang diusahakan oleh pemerintah ? Seperti tempat penangkaran di suatu tempat atau usaha konservasi yang lain.

    visit punyaa saya ! http://blogs.uajy.ac.id/alanpeter/2014/09/08/cendrawasih-merah-antara-kultur-eksploitasi-dan-konservasi/

  2. disa says:

    bekantan wajib untuk tetap kita lestarikan, agar keberadaanya tidak punah. keberadaan bekantan mampu melestarikan kebudayaan masyarakat sekitar, info yang sangat membantu masyarakat agar sadar akan kelastarian binatang seperti bekantan yang hampir punah

  3. agungprayogo says:

    info yang sangat menarik…keep blogging 🙂

  4. Florencia Grace Ferdiana says:

    menurut anda, jika bekantan termasuk primata yang sangat sensitif dengan kehadiran manusia, apakah dengan pengadaan ekoswisata nantinya tidak menganggu kenyamanan satwa tersebut??? 😀 😀

  5. elviena says:

    sangat disayangkan apabila primata unik ini tak dapat disaksikan langsung lagi..semoga upaya-upaya konservasi terus dilakukan agar kelestarian bekantan dapat terjaga 🙂

  6. agnes9 says:

    Menanggapi pertanyaan Alan, menurut saya pemerintah telah melakukan upaya selain mengeluarkan UU yaitu dilakukan penagkaran bekantan dengan cara ex situ, namun strategi ini rupanya masih belum efektif 🙁

  7. agnes9 says:

    Menanggapi pertanyaan Grace, memang betul bekantan sensitif dengan kehadiran manusia. Namun, perlu ditegaskan bahwa ekowisata memiliki konsep terstruktur dan tidak asal asalan. Dengan kata lain, sudah ada pihak yang mengatur bagaimana seharusnya pengunjung berperilaku saat bertemu bekantan supaya hewan tersebut tidak merasa terganggu. Perlu adanya pengkajian lebih dalam dari tahap perencanaan, pembangunan dan pengoperasian 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php